Info tempat Wisata dan Kuliner

Sunday, 31 January 2016

Wisata Religi di Kebumen,Jawa Tengah


Konon nama Kebumen berasal dari kebumain yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah di jadikan daerah pelarian dari Pangeran Bumidirdja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677,saat berkuasanya Sunan Amangkurat I.Sebelumnya daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram pada zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia,saat itu Kebumen masih bernama Panjer.
Salah seorang cicit dari Pangeran Senopati yaitu yang bernama Bagus Bodronolo yang dilahirkan di desa Karanglo Panjer atas permintaan Ki Suwarno,utusan Mataram yang bertugas pada bagian pengadaan logistik berhasil mengumpulkan bahan pangan dari rakyat di daerah ini dengan jalan membelinya.Keberhasilan ini dalam hal pembuatan lumbung padi di daerah Panjer sangat besar artinya bagi prajurit Mataram,dan hal ini membuat Sultan Agung memberikan penghargaan pada Ki Suwarno dengan mengangkatnya sebagai Bupati Panjer dan Bagus Bodronolo ikut di kirim ke Batavia sebagai prajurit pengawal pangan.

Selain itu ada pula tokoh legendaris dengan nama Joko Sangrib,ia adalah putra dari Pangeran Puger/Pakubuwono I dari Mataram dimana ibu dari Joko Sangrib masih adik ipar dari Demang Honggoyudo di Kuthawinangun.Kemudian setelah dewasa memiliki nama Tumenggung Honggowongso yang bersama Pangeran Wijil dan Tumenggung Yosodipuro I berhasi memindahkan keraton Kartosuro ke kota Surkarta sekarang ini.Dan pada kesempatan lainya ia berhasil memadamkan pemberontakan yang terjadi di daerah Banyumas,atas jasanya ini oleh keraton Surakarta ia di angkat dengan gelar Tumenggung Arungbinang I,sesuai nama wasiat pemberian ayahnya.Dalam Babad Kebumen keluaran Patih Yogyakarta,banyak nama di daerah Kebumen adalah berkat usulanya.Di dalam Babad Mataram disebutkan pula bahwa Tumenggung Arungbinang I berperan dalam perang Mataram/Perang Pangeran Mangkubumi,yang saat itu ia bertugas sebagai Panglima Prajurit Dalam di Keraton Surakarta.

Selain terkenal akan wisata alam dan wisata panatinya kebumen juga terkenal akan wisata religinya:

Makam Syeikh Anom Sida Karsa





Makam Syeikh Anom Sida Karsa ini terletak di desa Grogol Bening Sari Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen berjarak sekitar 15 km dari kota Kebumen.Makam ini selalu ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah terutama pada malam Jumat bulan Saban dan bulan Muharam.
Seperti diketahui bersama bahwa Syeikh Anom Sida Karsa ini adalah seorang waliyulloh,yang bila ditelisik asal uasulnya ternyata masih keturunan ke 5 dari Raden Fattah,dengan nama kecil/nama asli Dullah Sidiq.
Hidup pada jaman Hamengku Buwono IV dan konon memang ia keturunan darah biru,namun karena kecintaanya pada Sang Khalik ia lebih memilih untuk menyebarkan agama Islam daripada mementingkan pangkat.
Sebelumnya ia terlebih dahulu babad alas di daerah Demak sebelum singgah di daerah ini,namun begitu juga pernah singgah di daerah Sumpyuh tempatnya di desa Ngadiasa kemudian juga daerah Banyumas.Dari Banyumas ini ia kembali ke Demak dengan tujuan untuk perang melawan Belanda,kemaudian melanjutkan dakwahnya lagi hingga sampai di desa Grogol Bening Sari dan disinilah ia mukim dan menetap sampai wafat.




Syeikh Anom berguru pada Syeikh Abdul Awal bersama dengan tiga orang teman seperjuanganya yaitu Syeikh Abdul Fatah yang saat ini makamnya ada di daerah Sentul,Syeikh Shahrowardi yang makamnya terletak di desa Tanjungsari dan salah seorang murid dari desa setempat yang tugasnya untuk khutbah yang makamnya terdapat di kuburan Panggel.
Dari sejarah Syekh Anom yang paling menarik adalah pada saat Syeikh Abdul Awal hendak menunaikan ibadah haji ke tanah suci yang dengan sengaja memang ia tidak mengajak,mengikutsertakan murid miridnya karena dia hanya berniat mengajak istrinya dan beliaupun memberikan tugas pada masing masing muridnya.
Salah satu tugas yang diberikan pada Syeikh Anom adalah untuk menunggui sepuluh beton(biji nangka) yang sedang di benem(ditimbun dengan bara api}sampai matang untuk di bagikan pada teman temanya.
Dan keanehan terjadi ketika beton itu matang tidak berjumlah sepuluh namun hanya sembilan yang hal ini membuat beliau ragu untuk membagikan beton itu pada teman temanya.Dan untuk menyatakan keraguanya dia hendak menyusul sang guru ke Tanah Suci,dari sini terdapat karomah yang luar biasa karena beliau hanya menaiki sebuah bekong(tempat beras) untuk sampai ke tanah suci Mekah yang juga sama dengan gurunya Syeikh Abdul Awal untuk sampai ke Mekah hanya mengendarai mancung untuk sampai ketujauanya.
Sesampainya di Mekah kemudian Syeikh Anom bertemu dengan sang Guru dengan membawa sembialn beton yang masih hangat.Kemudian menanyakanya kenapa jumlah beton yang ada hanya sembilan buah padahal sebelumnya Syeikh Awal menyatakan bahwa jumlah beton yang di benamnya ada sepuluh buah.
Namun pertanyaan tersebut di abaikan saja dan karena sudah berada bersama di tanah Suci Syeikh Abdul Awal mengajaknya untuk bersama melakukan ibadah haji.

Cerita itulah yang menjadi dasar penamaan Syeikh Anom Sida Karsa yang mempunyai arti kata Sida berarti jadi dan Karsa mempunyai arti kesampaian.
Sumber di lokasi menyebutkan bahwa nama Syeikh Anom Sidakarasa di ketahui dari seorang yang selama dua tahun berturut turut melakukan riyadloh di makam tersebut pada tahun 1935,yang di ketahui sebagai Simbah Chamid dari Kajoran Magelang.
Menurut cerita Mbah Chamid kepada murid muridnya yang diyakini hingga sekarang,Syeikh Anom atau Syeikh Sidakarsa ini adalah cucu dari Sultan Bintoro/Raden fatah dari Demak.Beliau datang ke Kebumen ini untuk kepentingan berguru pada Syeikh Abdul Awal.Yang dapat diketahui bersama makam Syeikh Awal ini terletak di desa Kebonsari,Petanahan kira kira berjarak sekitar 1,5 km arah utara dari makam Syeikh Anom.
Begitu dekat dan cintanya Syeikh Anom kepada Gurunya,pada satu saat ketika gurunya sedang beribadah Haji di tanah suci beliau merasa susah.Karena begitu dekatnya hingga rindu tak tertahankan,yang kemudian beliau ini melakukan munajah agar dapat menyusul sang guru.Di saat bermunajah itulah tiba tiba sesuatu jatuh dan setelah di periksanya ternyata sebuah blengkoneng(mancung) pohon kelapa.Bagi Syeikh Anom itu adalah petunjuk dari Alloh dan tas iziNya pula dia dapat menyusul gurunya ke Mekah dengan menaiki blengkoneng itu.

Semasa hidupnya Syeikh Anom Sida Karsa dikenal memiliki kelebihan,dan hal itu terdengar sampai ke telinga para berandal di Daerah Ambal yang memang pada saat itu masih banyak berandal di daerah itu.
Mereka pun datang menyatroni rumah beliau ini dengan datang hingga berjumlah sampai 200 an orang.Sampai dilokasi mereka pun melihat suatu keanahan pada rumah nya yaitu meskipun rumah itu miring ke arah utara namun pada bagian selatan rumahnya yang di sangga dengan kayu.Dan hal ini membuat mereka para berandal yang menyaksikanya berpikir bahwa yang memiliki rumah tersebut sudah tidak waras lagi.Dan seketika itu juga Syeikh Anom Sidakarsa mempersilahkan masuk para berandal yang berjumlah dua ratusan orang itu,yang membuat mereka pun berpikir bahwa tuan rumah sudah tidak waras lagi,bagaimana mungkin orang sebanyak ini masuk ke dalam rumah yang sempit dan kecil itu.Namun demikian sesuatu yang aneh terjadi yaitu ketika para berandal itu masuk,ternyata dalam rumah nya begitu luas dan mereka para gerombolan itu hanya menempati satu bagian kecil pojok dalam ruangan rumah Syeikh Anom Sidakarsa ini.Barulah mereka para gerombolan berandal ini menyadari bahwa tuan rumah bukan orang yang sembarangan.Dan kemudian para gerombolan berandal itu pun di jamu dengan makana,sesuatau yang memang sudah menjadi kebiasaan biliau jika ada tamu yang datang dan makanan pun selalu ada berapapun tamu yang datang tiap harinya.Para berandal itu pun diberi pesan agar jangan membuang tulang ayam di lantai,namun saat itu ada saja yang dengan sengaja membuang tulang ke laintai dan tulang itu berubah menjadi ayam lagi.Dan akhirnya mereka para berandal pun takluk pada Syeikh Anom Sidakarsa.

Gambar/Foto :
Aroengbinang Travelog


Makam Syeikh Abdul Awwal

Makam Syeikh Abdul Awal terletak di desa Kebon Sari kecamatan Petanahan tidak jauh dari makam muridnya Syeikh Anom Sidakarasa.Syeikh ini dulunya bernaman Mangkurat Mas dari Yogyakarta putra dari Raden Pemanahan dari istri Padmi.Seperti diketahui bahwa anak dari Raden Pemanahan ini berjumlah dua orang yaitu Mangkurat Mas dan Mangkurat Kuning.
Cerita berawal ketika itu Ki Ageng Pemanahan berpesan kepada anaknya lewat adiknya yaitu Ki Ageng Giring yang bermukim di Cirebon.Di mana isi wasiatnya yaitu jika beliau(Ki Ageng Pemanahan)mangkat maka kekuasaan keraton Yogyakarta diserahkan kepada anak sulung nya yaitu Mangkurat Mas.
Namun begitu ketika Ki Ageng Pemanahan wafat pesan tersebut tidak disampaikan oleh Ki Ageng Giring yang hal tersebut menjadi geger yang menyebabkan Mangkurat Mas pergi dari keraton dengan prinsip bahwa kekuasaan hanya akan menimbulkan seseorang akan bertaruh mungkin sampai akhir hayatnya,hanya akan bertaruh dan memperebutkan kekuasaan saja.
Dan akhirnya kekuasan jatuh ke tangan Ki Ageng Giring sedangkan mangkurat Mas pergi dari kerajaan ke arah barat dan sampai pada daerah yang sekarang ini bernama Kebonsari.

Yang pada saat itu juga terjadi geger di tanah Jawa yang di sebabkan oleh misi dari Raden Patah putra dari Prabu Brawijaya V (raja terakhir dari Majapahit di Jawa) ingin menundukan negara Pandhawa tengah.
Pada saat itu juga Mangkurat Mas atau Syeikh Abdul Awal telah bermukim di Kebonsari,yang memang pada saat itu belum bernama Kebonsari yang lama kelamaan beliau disini membawa ilmu para wali ibarat hanya sebulir/semenir padi di pecah menjadi empat mazhab.Sembari bermukim disini Mangkurat Mas memberi wewarah kepada banyak orang tentang ilmu para wali.
Kedatangan R.Patah ke tanah Jawa pun diikuti oleh proses penyerangan perilaku ibadah yang merujuk pada ajaran para wali di geser dengan ilmu agama suci dari tanah Saudi ajaran Nabi Muhammad saw,awalnya di tanah Jawa yang di amalkan ilmu Kuntadewa.

Di sini Mangkurat Mas alias Syeikh Abdul Awwal mempunyai banyak murid diantaranya adalah di Guyangan,Syeikh Anom Sidakarsa dan Syeikh Abdul Rosyid.Sebagai pembawa ajaran Islam Jawa/sinkretik/ilmu kebatinan/ilmu ratu tanah jawa beliau mengajarkan seorang diri ilmunya di sini.
Dengan berjalanya sang waktu dan sudah cukup lama Syeikh bermukim di Kebumen beliau ingat akan pesan yang tertulis di kitabnya untuk pergi melakukan ibadah Haji di tanah Suci dan pada saat pergi ke tanah suci beliau hanya mengendarai sebuah mancung dari pohon kelapa.
Saat mengembara ke Kebumen ini beliau sudah menamatkan ilmu dari pesantren dan sudah menikah dengan putri dari keraton Surakarta/Solo yang bernama Jonggrang,dan seperti di ketahui bersama belum sempat beliau bekerja mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya dari pesantren terjadi perebutan kekuasaan di Yogyakarta yang membuat beliau pergi dari keraton,selain itu juga akan kedatangan/pendudukan Belanda atas tanah jawa.Dan seumur hidupnya Syeikh Abdul Awwal hanya mempunyai seorang istri yaitu nyai Jonggrang.

Dalam cerita disebutkan bahwa R.Patah yang membawa risalah rosul Muhammad adalah putra dari pernikahan putri Cempa Cina dengan Prabu Brawijaya V yang merupakan raja Majapahit yang terakhir.Menurut versi dongeng pemberian nama R.Patah adalah mengandung makna banyu patang wulan bali ngulon meng Cina.Dahulunya Ratu Sriwijaya alias bapak dari putri Cempa menciptakan putrinya yang berwujud jin raksasa di cipta menjadi putri cantik seperti di tanah jawa.
Kemudian setelah menjadi cantik putri Cempa ini berkeliling di tanah jawa sembari membawakan seni lagu tari tarian untuk di pertontonkan,yang hal ini membuat Prabu Brawijaya melalui patih Gajah Mada berkehendak untuk menjadikan putri Cempa ini sebagai istrinya yang ke 41.
Dan pada saat hamil dan ngidam putri Cempa ini menginginkan rujak babi,sebagai suami yang baik maka Brawijaya memerintahkan pada para kawula nya untuk berburu babi dan kemudian memasaknya.
Sesaat setelah makan apa yang diinginkanya itu putri Cempa kembali kepada bentuk ujudnya yang semula yaitu raksasa yang membuat ia malu dan membuatnya kembali pulang terbang ke tanah asalnya,dengan tidak lupa membawa banyu patang wulan alias R.Patah.
Dan sesampainya di negerinya putri Cempa ini dipersunting oleh Arya Damar yang merupakan raja Palembang dan tidak lama kemudian R.Patah lahir.

Sebagai seorang ayahnya Prabu Brawijaya berpesan kepada Arya Damar untuk tidak menghilangkan identitas dari R.Patah yang merupakan keturunan langsung dari Majapahit.
Di kemudian harinya R.Patah pergi menuntut ilmu ke Mesir yang membuatnya menjadi seorang yang alim yang kelak menjadi seorang pembawa, penyebar Islam Rosul di tanah Jawa dan juga bahkan menyerang ayahnya sendiri(Brawijaya) sebagai penguasa di Majapahit yang nota bene sebagai pemegang tradisi dan kepercayaan Hindu.Raden Patah adalah anak kandung dari putri Cempa hasil pernikahanya yang kedua dengan Prabu Brawijaya(raja Majapahit),yang sebelumnya putri Cempa ini pernah menikah dan berputrakan Raden Husen.
Dan ketika beliau Raden Patah mengetahui siapa dirinya sebenarnya,segeralah ia menyusul ayah kandungnya di Majapahit dengan terlebih dahulu singgah di kerajaan Demak Bintoro dan bertemu dengan Sunan Ampel.Yang kemudian oleh Sunan Ampel dinikahkan dengan cucunya yang bernama putri Mloko dan dijadikan sebagai Bupati Demak Bintoro.
Setelah sekian lamanya bermukim di Demak ada keinginan dari R.Patah untuk melanjutkan pencarian ayahnya ke Majapahit,dan dalam perjalanyan berjumpa dengan Sunan Giri.
Kepada Sunan Giri R.Patah mengutarakan semua maksud dan niatnya namun mendapat pertentangan dan larangan dengan alasan bahwa ilmu para wali yang telah mengakar di tanah Jawa tidak boleh di ganggu gugat,dirubah atau dicampuri oleh ilmu ajaran Islam yang berasal dari tanah Arab.
Namun pada kenyataanya kemudian Raden Patah setelah bertemu dengan saudara tirinya Raden Husen menegakan agama rosul di ranah Jawa.
Pada saat itulah para wali sebagai pemegang ajaran sinkretik mundur agar tidak terjadi pertentangan di kalangan umatnya.

Di Kebumen tempat mukim Syeikh Abdul Awwal adalah di pedukuhan Kedungamba dengan nama desanya Grogol Beningsari yang setelah pendudukan Belanda daerah ini masuk desa Kebonsari.Dilihat dari mamanya Kedungamba mempunyai makna jero lan amba melambangkan dalam dan luasnya ilmu wali yang di bawa oleh beliau Syeikh Abdul Awwal.Saat tiba disini beliau membawa rasa bersedih karena terusir dari keraton,istananya dan saat sampai di Kedungamba sudah ada pemukim sekitar 50 oarang penduduk,namun jika di telusur tidak bisa di ketahui dari mana asalnya ke 50 orang penduduk tersebut.
Satu cerita yang melatarbelakangi Mangkurat Mas alias Syeikh Abdul Awwal di Kedungamba yaitu tentang pada satu saat istri dari Ki Ageng Giring sakit,yang berhasil menyembuhkanya adalah Mangkurat Mas dan sesuai apa yang telah dijanjikanya oleh Ki Ageng Giring bahwa siapapun yang berhasil menyembuhkan istrinya,apapun yang di mintanya akan di dituruti permintaanya.

Atas apa yang telah di lakukanya kemudian Mangkurat Mas meminta tanah seluas serban yaitu bumi Mataram yang kemudian hari di tempati,Kedungamba.Sebelumnya Ki Ageng Giring menawarkan sebuah tanah di lokasi sebelah timur sungai Praga sampai Sitandu,namun demikian Mangkurat Mas menolaknya.
Dan sebagai tanah hadiah dari Sultan maka Kedungamba di sebut sebagai tanah Keputihan yang setiap tahunya tidak terkena pajak ke Mataram namun hanya menyetorkan bulu bekti atau glondhong pengareng pengareng berupa padi atau palawija saja tiap tahun pada musim panen sado ke Mataram berpakain jarit wiru dan blangkon.Dan pada saat menyerahkan bulu bekti ini yang ikut sowan berjumlah tujuh orang yaitu sebagai perlambang martabat desa yaitu Lurah,Congkok,Carik,Kebayan,Kaum,Polisi dan Kamituwo.
Oleh Mataram yang di beri kewenangan sebagai Lurah adalah Mangkurat Mas atau Syeikh Abdul Awwal.Namun begitu setelah pendudukan Belanda di Jawa barulah Kedungamba di kenai pajak.





No comments:

Post a Comment