Info tempat Wisata dan Kuliner

Tuesday, 12 January 2016

Wisata Sejarah Goa Selarong di Yogyakarta



gerbang wisata Goa Slarong


Ada satu tempat wisata goa yang banyak di kunjungi baik wisatawan asing maupun domestik di Yogyakarta,dimana dulunya di kenal sebagai basis perlawanan perjuangan Pangeran Diponegoro dalam perang gerilya melawan penjajah Belanda.Yap,betul anda pasti mengenalnya dengan nama Goa Selarong.Sekarang ini di kenal juga sebagai tempat wisata religius,banyak pengunjung yang melakukan meditasi dan ritual lainya.

Banyak kalangan yang menilai tempat ini memiliki nilai mistik yang tinggi dan di anggap sebagai tempat yang misteri.Dengan membayar tiket seharga dua ribu rupiah kita dapat menikmati wisata gua ini.
Fasilitas pendukung tempat wisata gua ini pun telah di bangun untuk kenyamanan para wisatawan seperti misalnya pendopo untuk beristirahat,gardu pandang,sarana bermain anak,tempat parkir,toilet dan lain lain.
Selain itu ada juga fasilitas untuk berkemah jika suka.
Alamat tempat wisata ini di daerah Bantul tepatnya di Guwosari,Pajangan Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta.



mulut Goa Slarong


Dalam kaitanya dengan wisata sejarah,di tempat ini juga diadakan suatu acara yang di kenal dengan Grebeg Slarong yang diadakan secara rutin tiap tahunya.Dimana acara ini erat kaitanya dengan masa masa perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah dalam hal ini masa di mana Pangeran Diponegoro hijrah ke Gua Slarong dan untuk mengenangnya pemerintah daerah setempat menjadikan hari hijrahnya tersebut sebagai hari jadi Kabupaten Bantul.
Seperti di ketahui bersama bahwa Pangeran Diponegoro(1785-1855) adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono III(1769-1814) namun demikian ia tidak menghendaki untuk menjadi raja penerus ayahnya dan lebih memilih untuk hidup bersama rakyatnya di Tegalrejo.
Suatu ketika tanggal 20 Juli 1825 dalam satu pergerakan perjuanganya pihak Pangeran Diponegoro dan pengikutnya di serang dan di kepung di daerahnya yaitu Tegal Rejo.Namun demikian serangan dan pengepungn yang dilakukan oleh pihak Belanda tidak berhasil membuahkan penangkapan atas Pangeran Diponegoro,karena sang pangeran telah lebih dulu menyingkir ke gua Slarong.Yang kemudian tempat ini di jadikan sebagi tempat,basis perjuangan gerilya melawan pemerintah kolonial Belanda.

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa tempat wisata ini berada di daerah Pajangan Bantul,kira kira 30 km dari pusat kota Jogja dan memakan waktu sekitar 45 menit untuk mencapainya.
Untuk dapat mencapai mulut gua pengunjung harus menaiki anak tangga yang curam dengan kemiringan sekitar 45 derajat.Dan begitu sampai pada puncak tangga pengunjung akan mendapati dua buah gua kecil pada sisi kanan dan kirinya.Bagian sebelah kanan yang di kenal sebagai gua Putri,yang dahulunya di jadikan sebagai tempat istirahat oleh Raden Ayu Ratnaningsih,istri Pangeran Diponegoro.
Sementara yang di sebelah kiri tangga adalah gua Kakung,sebagai tempat istirahat sendiri dari Pangeran Diponegoro.Kedua gua ini berukuran kecil dengan ketinggian dan kedalaman sekitar 15 meter.
Dari segi kelebaranya gua Putri lebih lebar dari gua Kakung,yaitu tiga meter untuk gua Putri dan dua meter untuk gua Kakung.Dan dari pelataran kedua gua ini dapat disaksikan pemandangan sekitar gua Slarong dan adanya air terjun di sekitar gua.



air terjun kawasan Gua Slarong


Dan dapat di katakan serta banyak juga yang meyakini gua Slarong ini masih angker karena pada malam malam tertentu seperti malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon sering terdengar lantuman gending dending jawa yang sedang di tabuh dari dalam gua,namun sebenarnya di dalam gua tidak nampak ada yang sedang nabuh gamelan.Jadi hanya terdengar surara namun tidak nampak yang sedang menabuhnya.
Pesona gua Slarong ini juga terdapat pada sumber air yang dikenal dengan nama Sendang Manik Maya.Untuk menjangkau tempat ini pengunjung harus melewati jembatan kecil di atas kali kering yang merupakan tempat mengalirnya limpahan air terjun saat hujan.
Kemudian berjalan sekitar seratusan meter melalui jalan setapak.Sendang Manik Maya merupakan sumber mata air abadi yang dahulunya di gunakan oleh Pangeran Diponegoro dan pengikutnya untuk mandi dan bersuci.Sementara untuk keperluan memesak dan mencuci menggunakan sendang lain yang terdapat di dekat Sendang Manik Maya yang dikenal dengan nama Sendang Umbul Mulya.




No comments:

Post a Comment