Info tempat Wisata dan Kuliner

Thursday, 25 February 2016

Karangbolong dengan Sarang Burung Lawet,Kebumen





Adalah sebuah desa di Kecamatan Buayan,Kabupaten Kebumen yang di kenal dengan nama desa Karangbolong.Sebuah desa di mana pada wilayah desa itu memiliki sebuah pantai yang sudah begitu dikenal bukan hanya pada lingkup Kebumen saja.Banyak orang mengenal atau mengidentikan salah satu pantai di Kebumen ini dengan komoditas ekspor tertentu yang tentunya menjadi unggulan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen di karenakan komoditas ini termasuk dalam kategori langka dan dengan harga jual yang relatif tinggi,sehingga komoditas ini di jadikan suatu ikon oleh pemerintah Kabupaten Kebumen dengan di jadikanya suatu lambang daerah dan di abadikan pada sebuah tugu yang menjadi ciri khas pemerintahan setempat.Komoditas tersebut adalah Burung Lawet,dimana pemanfaatan sarang burung Lawet tersebut terdapat pada air liur yang di hasilkan dari burung burung Lawet tersebut yang menempel pada sarang sarang nya.

Kembali kepada pantai Karangbolong si penghasil Burung Lawet di Kebumen,penamaan pantai tersebut dengan nama Karangbolong terkait dengan adanya dua buah goa di sekitar lokasi pantai.Goa yang pertama terletak pada ujung pojok barat pantai yang merupakan sebuah bagian dari bukit Hud.Sedang goa yang kedua dinamakan dengan Goa Contoh,sebuah nama goa yang mengarah pada contoh cara pengunduhan sarang Burung Lawet,di mana dalam goa tersebut terdapat model,cara cara mengunduh sarang burung Lawet.Seperti sudah di kemukakan sebelumnya bahwa Karangbolong merupakan penghasil sarang Burung Lawet.

Pengunduhan sarang Burung Lawet itu sendiri di lakukan pada sebuah goa yang di dalamnya terdapat sarang sarang Burung Lawet,di mana gua ini merupakan bagian dari bukit Hud yang pada bagian selatan bukit itu merupakan bagian dari Samudra Indonesia,lautam luas yang terhampar dengan ombak ombak besar yang menggulung nggulung dengan besar dan hebatnya yang kemudian menghantam bebatuan karang pada bukit Hud.Oleh karena itu lah proses pengunduhanya haruslah dilakukan dengan sangat hati hati dan dilakukan oleh orang orang yang telah terbiasa melakukanya.
Sebab di bagian bawah dari para pengunduh tersebut adalah lautan luas dan batu batuan karang yang tajam.
Proses pengunduhan sarang Burung Lawet itu sendiri di lakukan dengan menggunakan semacam rotan yang di buat menyerupai tangga yang digunakan untuk menuruni bukit hingga sampai pada mulut gua,dan kemudian dari mulut gua untuk memasuki ke dalam gua menggunakan satu batang bambu yang di gantung dengan menggunakan seutas tali.Dan pada saat itu para pengunduh berbekal sebuah senter di kepala sebagai penerangan,alat untuk menjangkau sarang burung tersebut dan juga kantong tempat wadah sarang burung setelah diambil dari dinding dan langit langit gua.

Dalam proses pengunduhan ini juga di bantu oleh Pemda Kebumen dengan mengadakan suatu ritual khusus sebelum dilakukan pengunduhan yang dikenal dengan nama Sadranan yang dilakukan di pendop desa Karangbolong.
Dan perlu diketahui pula dekat dengan pendopo ini terdapat sebuah Panembahan yang di dalamnya terdapat sebuah patung Garuda dengan ukuran besar yang dilapaisi dengan emas yang terletak pada sebuah tempat berkaca dan tidak boleh disentuh.
Dan di belakan patung garuda tersebut terdapat sebuah tempat tidur dengan ukuran kecil yang konon merupakan tempat tidur Nyi Roro Kidul,dilengkapi pula dengan bantal dan guling dengan ukuran kecil(seperti untuk bayi) dengan sarung sarungnya yang berwarna hijau dan juga terdapat tujuh buah jarit dengan jenis yang berbeda beda.
Pada acara Sadranan tersebut,yang pertama tama adalah melakukan pemotongan seekor kerbau di rumah pimpinan para pengunduh sarang burung yang di sebut dengan Pak Mandor,di mana pada rumahnya tersebut harus terdapat sebuah ruangan yang kosong untuk menaruh sesaji,baju,selendang dan jarit.
Masing masong dari baju,selendang dan jarit itu harus berjumlah tujuh,yang konon jika kurang dari tujuh pada saat proses pengunduhan sarang burung Lawet bisa membahayakan atau membuat celaka para pengunduh misal terluka atau terjatuh ke dalam laut.
Sesaat setelah pemotongan seekor kerbau yang kemudian kepala kerbau itu di larung kelaut,di gua Contoh terdapat serombongan penabuh gamelan dan juga sinden yang sedang menyanyi diiringi tetabuan gamelan tersebut.

Biasanya acara sadranan tersebut dilakukan pada hari Kamis dan Jumat dan proses pemotongan kerbau dilakukan pada hari Jumat dan kemudian dilanjutkan pada malamnya diadakan pertunjukan kesenian rakyat wayang semalam suntuk yang bertempat di pendopo.
Kemudian pada hari sabtu nya diadakan pertunjukan kesenian tradisional lainya berupa Kuda Lumping dan juga keenian Kethoprak.
Setelah acara Kethoprak ini selesai dilanjutkan dengan acara ramah tamah makan bersama di antara pegawai sarang burung.
Dan acara puncaknya yang di adakan pada malam hari di adakan pertunjukan kesenian tradisional yang di kenal dengan nama Tayuban,adalah suatu kesenian menari nari bersama yang diiringi dengan tetabuan gamelan.Di sini yang menari nari adalah para pegawai sarang burung yang di dampingi oleh penari wanita yang di sebut dengan Lengger.
Kemudian sesaat setelah acara Tayuban ini selesai dilanjutkan dengan acara makan makan lagi para pegawai sarang burung tadi yang menandakan sebuah syukuran dari suatu hajat.









Namun dewasa ini acara Sadranan ini sudah tidak dilakukan lagi mengingat makin merosotnya hasil unduhan sarang burung Lawet.Pada saat itu hasil panen sarang burung bisa mencapai berkwintal kwintal,namun sekarang panen yang dihasilkan sekitar satu sampai tiga kilogram saja.
Karena hal itulah sarang burung Lawet yang dulunya di kelola oleh Pemda Kebumen dialihkan dan di kelola oleh desa Karangbolong.
Dan pada kenyataanya Pemerintah Desa Karangbolong tidak mampu untuk menyelenggarakan acara Sadranan dikarenakan pendapatan dari sarang burung Lawet yang tidak sebanding dengan biaya untuk menyelenggarakan acara Sadranan.



No comments:

Post a Comment