Info tempat Wisata dan Kuliner

Friday, 20 April 2018

Kisah dan Sejarah Masjid Menara Kudus

Kudus,Jawa Tengah dikenal sebagai kota santri dimana sejarah Keislaman Jawa mencatat bahwa di kota ini pada masa lalunya dikenal sebagai kotanya Wali.
Pada masanya dahulu para wali ini sangat berperan dalam penyebaran Agama Islam di Indonesia,dan jika menyebut Kudus dengan keterkaitanya dengan dunia Islam khususnya Wali,masyarakat tidak bisa lepas dengan salah satu peninggalan bersejarah yang sekaligus juga menjadi ikon Kota Kretek ini yaitu Masjid Menara Kudus.
Sebuah destinasi wisata religi yang paling banyak diminati dan juga sanagat melegenda oleh wisatawan dikota ini dalam keterkaitanya wisata sekaligus berziarah di Makam Sunan Kudus.

          Hasil Akulturasi Budaya




akulturasi budaya Jawa - Hindu




Terletak di Jalan Jendral Ahmad Yani,Desa Kauman Kecamatan Kota Kudus dan merupakan pusat kotanya Kudus sehingga memudahkan pengunjung untuk mencapai lokasi.Suatu bukti peninggalan bersejarah masa lalu yang memiliki keunikan dan keindahan yang tidak diragukan lagi.
Menara Kudus ini merupakan sebuah masjid dengan arsitektur yang indah dan unik yang merupakan peninggalan dari jamanya Ja'far Shodiq atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus.
Pembangunan masjid ini dilakukan pada tahun 1549 Masehi atau 956 Hijrah,dengan mendapat nama resmi Masjid Al Aqsho Menara Kudus namun juga mempunyai nama lain yaitu Masjid Al Manar.

Dari segi arsitektur masjid ini mempunyai bentuk yang unik yaitu adanya percampuran dari sisi nilai budaya yang ada pada saat itu antara Hindhu - Budha dengan budaya Isalam.
Hal ini bisa membuktikan bahwa adanya rasa toleransi yang kuat pada saat itu di wilayah Kudus pada khususnya dan Di Jawa itu sendiri pada umumnya terkait dengan keragaman agama serta budaya.
Dimana bentuk dari toleransi yang kuat itu terletak pada bentuk bangunan masjid itu sendiri yang menyerupai bentuk candi Hindu.
Adapun secara fisik bangunan Menara Kudus ini memiliki tinggi sekitar 18 meter dan bangunan dasarnya berukursan sekitar 10 x 10 meter yang mampu menampung jamaah sebanyak hingga mencapai 2000 an.
Sebuah acara rutin yang diselenggarakan tiap tahunya oleh warga sekitar yang dikenal dengan nama Festival Dhandangan yaitu sebuah acara dalam rangka menyambut bulan Suci Ramadhan.

Selain itu pula terdapat sebuah acara tradisi yang penyelenggaraanya rutin diadakan pada tiap tanggal 10 Suro dikenal dengan nama Buko Luwur yang dapat diartikan Luwur berarti makam.
Suatu acara sakral dalam rangka mengganti kain penutup makan diganti dengan yang baru.
Pada saat acara ini telah selesai satu hal yang juga ditunggu oleh para pengunjung yaitu pembagian nasi dan juga bekas kain penutup makam.
Beberapa warga meyakini bahwasanya jika berhasil mendapatkan kain dan nasi yang dibagikan,maka keberuntungan akan memihak kepadanya.


Ziarah Makam Sunan Kudus

Berbicara tentang Masjid Menara Kudus ini tentulah tak bisa lepas dari sunan Kudus yaitu beliau ini yang bisa dikatakan sebagai pemilik dari masjid ini.
Pada saat ini makam beliau Sunan Kudus terdapat pada sisi barat dari masjid ini,yang merupakan bagian belakang dari kompleks bangunan masjid ini.
Dan selain terdapatnya makam Sunan Kudus di kompleks masjid ini,juga terdapat makam lain sebagai ahli waris Sunan Kudus seperti misalnya Pangeran Padamaran,Panembahan Palembang,Panembahan Condro dan lain sebagainya.
Oleh karenanya maka banyak sekali peziarah yang menziarahi makam ini,baik itu yang berasal dari Indonesia ataupun meraka yang sengaja datang dari luar negeri.
Dengan waktu yang tidak dibatasi 24 jam non stop selalu ada saja peziarah yang datang dalam jumlah yang banyak dan mereka selalu rela untuk antri serta berdesak desakan.




bagian dalam Masjid Menara Kudus



Sejarah Masjid Menara Kudus


Sejarah mencatat tentang awal mulanya pembangunan masjid ini,saat itu sekitar abad ke 7 dimana pada masanya ajaran agama Hindu dan Budha banyak penganutnya di tanah Jawa.
Tersebutlah di masa itu,salah satu dari 9 Wali yang dikenal yaitu Sunan Kudus sebagai seorang penyebar agama Islam mempunyai satu gagasan dalam rangka menyebar luaskan ajaran Islam yaitu dengan membangun sebuah masjid.
Dengan caranya pula,seperti diketahui pada masa itu ajaran yang berkembang adalah animisme dan dinamisme maka beliau melakukan penyebaran ajaran Islam melalui pendekatan budaya.
Selanjutnya sebagai media dakwah beliau inilah di bangun Masjid Menara Kudus,dimana secara arsitektural pembangunan masjidnya diadaptasi dari keadaan sosial budaya masyarakat sekitar pada waktu itu.
Terbentuklah sebuah masjid dengan gaya areitektural yang cantik,unik serta menarik yang banyak wisatawan pengunjung mengaguminya dan bahkan Masjid Menara Kudus ini menjadi ikon di Kota Kretek ini.
Sebuah prasasti terdapat pada mihrab masjid ini,dengan ukuran panjang 46 cm serta lebar 30 cm dan dalam bahasa arab menyebutkan bahwa masjid ini dibangun pada tahun 1549 Masehi atau 956 hijriah.Dan batu untuk penulisan prasasti tersebut berasal dari Palestina,oleh karenanya masjid ini dinamakan juga Masijd Al Aqsa.
Dan untuk perlu diketahui pula bahwa pada waktu itu lebih dahulu mendirikan Menara Kudus baru kemudian setelahnya mendirikan Masjid Menara Kudus.


Gaya Arsitektural Menara Kudus


Bangunan Menara Kudus terdiri dari bahan material batu bata merah dan terdapat pada seluruh komplek masjid,pada area Makam Sunan Kudus dan pada bagian menaranya juga.
Ketika mengunjungi destnasi wisata religi ini akan banyak menemukan sebentuk bangunan gapura,yang berdiri dengan kokohnya.
Sementara dalam masjid ini dapat ditemukan dua buah gapura kori yang agung dan mengagumkan,gapura yang terdapat dalam masjid ukuranya lebih kecil daripada gapura yang terdapat di luar masjid.Pada bagian kanan serta kiri dari gapura tersebut terdapat hiasan hiasan dinding sehingga mempercantik dan memperindah bentuk gapura.
Sementara itu pada bagian depan serambi masjid juga terdapat gapura Paduraksa yang dikenal dengan nama Pintu Kembar,dengan corak Hindu nya yang masih kental.
Pada bagian tubuh menaranya itu sendiri terhiasi dengan 32 buah piringan yang bergambar,dimana 20 piringan bergambar masjid,pohon kurma,manusia dan juga unta dengan warna dominan biru serta sisanya berwarna dominan merah dengan gambar kembang atau bunga.




menara dengan bahan material batu bata merah




Secara lebih detail lagi Masjid menara Kudus ini memiliki 4 buah jendela dengan 5 pintu pada masing masing kanan kirinya dengan pintu yang berukuran besar berjumlah 5 buah.
Dengan 8 buah tiang besar yang ada di dalam masjid yang kesemuanya terbuat dari kayu jati.
Terdapat juga di dalam area masjid sebuah kolam yang juga padasan peninggalan kuno sebagai tempat ber wudhu.
Suatu perpaduan yang unik dan juga menggambarkan toleransi yang tinngi pada saat itu yaitu,adanya 8 buah tempat wudhu dengan hiasan archa diatasnya dengan panjang 12 meter,lebar 4 meter serta tinggi 3 meter.Suatu simbol dari keyakinan ajaran Budha yang mengatakan Asta Sangita Marga yang mempunyai makna 8 jalan kebenaran.
Seperti layaknya bangunan bangunan Hindu yang ada pada umumnya,Menara Kudus ini juga terdiri dari 3 bagian yaitu kaki,badan dan juga atap.
Pada bagian kaki menara terdapat motif khas Jawa - Hindu yang diperkuat dengan peletakan batu bata yang tidak menggunakan perekat,satu ciri khas yang menyolok pada bangunan pada masa itu.
Pada bagian atap bangunan Menara Kudus ini,banyak menyerap dari budaya Jawa yang terlihat dari atap menara yang terbuat dari pohon jati serta puncak atau tajugnya berbentuk seperti masjid tradisional Jawa yang merupakan rujukan Jawa - Hindu.

Sedikit ulasan mengenai sejarah maupun seluk beluk Masjid Menara Kudus,sebagai suatu destinasi wisata religi yang mungkin bisa bermanfaat bagi pembaca semua serta menjadi suatu acuan bagi yang berkehendak untuk berziarah ke Makam Sunan Kudus ini.




No comments:

Post a Comment